Jumat, 24 April 2009

KIAT SUKSES BUDIDAYA VANNAMEI





KIAT SUKSES BUDIDAYA VANNAMEI

Berikut ini adalah kiat sukses bertambak udang vannamei, rangkuman dari beberapa petambak yang sukses atau terus bertahan dengan udang vannamei. Kebanyakan tambak yang digunakan adalah alih fungsi dari tambak windu dan umumnya sudah melewati beberapa siklus udang windu sehingga untuk budidaya vannamei perlu perubahan yang mendasar mulai dari perbaikan kontstruksi tambak dan persiapan lahan.

PERBAIKAN KONTSRUKSI TAMBAK
Setelah tambak digunakan beberapa periode pemeliharaan, terutama pada tambak tanah biasanya terjadi beberapa kerusakan seperti:
  • Kurang berfungsinya central drain (tidak bisa membuang kotoran). Padahal sistem pembuangan tegah (central drain) dengan setting kincir memutar adalah cara terbaik untuk membuang limbah (kotoran) tambak. Agar sistem pembuangan tengah bisa berfungsi dengan baik maka dasar tambak harus rata dan padat serta ada kemiringan ke arah tengah. Dibuatkan bak kontrol dibagian tengah yang merupakan tempat pengumpulan kotoran dari pipa berlubang (pembuangan) di bagian tengah. Lubang-lubang penyedot kotoran harus dibuat di bagian samping dan bawah dari paralon (bagian atas tidak perlu). Jumlah lubang dan diameternya berpengaruh terhadap daya sedot. Untuk itu harus diuji coba berapa banyak lubang dan besarnya diameter lubang agar diperoleh daya sedot yang baik.
  • Terjadinya pendangkalan baik dasar tambak (akibat erosi pematang) maupun pada saluran pembuangan sehingga pembuangan kotoran dari central tidak bisa lancar. Disamping itu, akan berpengaruh terhadap lamanya waktu panen dan kualitas udang yang dipanen.
  • Adanya bocoran / rembesan akan berdampak langsung terhadap kedalaman airkolam. Sehingga kebutuhan air menjadi lebih banyak, pembentukan plankton menjadi lebih sulit, dan tujuan mengurangi masuknya air dari luar menjadi tidak tercapai. Bila suatu saat ada wabah penyakit (virus atau vibriosis) maka tambak yang demikian bisa terkena lebih dahulu.
  • Kedalaman air yang kurang akibat menurunnya pematang (karena erosi maupun penyusutan tanah). Untuk meninggikan tanggul dapat diambil dari tanah dasar sekaligus perataan dasar tambak.
  • Kondisi dasar yang bergelombang menjadi jebakan lumpur sehingga tidak bisa terkonsentrasi ke tengah. Tanah dasar tambak harus dibuat rata dan padat.
  • Kondisi dasar tambak yang tidak miring ke saluran pembuangan (“ngantong”) sehingga saat panen menjadi lama, kondisi udang menjadi rusak sehingga menimbulkan kerugian bagi petambak. Biasanya tambak yang demikian jarang yang hasilnya baik karena adanya kesulitan saat pengeringan, sehingga proses persiapan tidak berjalan baik.
  • Hal-hal tersebut di atas banyak dijumpai di tambak-tambak dan sepertinya hal tersebut dianggap tidak penting. Perbaikan konstruksi menunggu hasil panennya baik. Padahal, hal-hal tersebut tidak sedikit pengaruhnya terhadap kegagalan budidaya. Untuk itu, perbaikan konstruksi merupakan tahapan budidaya yang tidak boleh diabaikan.
PERSIAPAN TAMBAK
Persiapan tambak yang baik merupakan langkah awal menuju sukses dalam budidaya. Oleh karena itu, persiapan merupakan tahapan penting yang sangat menentukan. Untuk lahan-lahan baru, yang berasal dari tanah rawa / mangrove, pohon gelam, nipah biasanya memiliki pH yang rendah. Sering pula ditemukan lahan dengan pirit yang tinggi.

Oleh karena itu, persiapan harus dilakukan dengan benar-benar sempurna. Pengeringan harus cukup, pencucian harus berulang-ulang sampai kondisi pH tanahnya sesuai. Bila perlu dilakukan balik tanah (selama proses pencucian) untuk menghilangkan senyawa besi yang ada pada lapisan dalam tanah, agar tidak banyak mengganggu saat kita sudah memasuki tahap awal – pertengahan budidaya. Lahan-lahan yang memiliki pH rendah dan pirit yang tinggi, kadar phosphat harus dijaga agar tetap tinggi, untuk menjaga kestabilan plankton. Sebab bila pH turun, phosphat terikat oleh besi maka akan mengganggu kestabilan plankton.

Bila plankton mati, maka pH cenderung turun dan udang akan keracunan zat besi.
Bagi lahan-lahan yang sudah tua (mengalami beberapa musim tanam), yang harus diperhatikan benar adalah kandungan bahan organik tanahnya. Kandungan bahan organik tanah dapat diperiksa di lab dengan metoda pembakaran dengan suhu tinggi (600oC).

Kandungan bahan organik dalam dasar tambak sebaiknya tidak lebih dari 3 %. Bahan organik yang ada di dasar harus dioksidasi melalui proses pengeringan yang cukup (bila perlu dengan pembalikan tanah dasar).

Cukup tidaknya proses oksidasi dapat dilihat dari nilai pengukuran Potensial Redoks (Reduksi-Oksidasi). Bila bahan-bahan tereduksi sudah teroksidasi (termasuk bahan organik) maka nilai Potensial redoks (ORP = Oxydation-Reduction Potential) positif.

Untuk mempercepat proses persiapan, maka perlu dilakukan pembuangan bahan organik (lumpur) setelah panen. Ada 3 cara untuk menyingkirkan bahan organik dari dasar tambak, yaitu :
  • Sistem Kering (dry system): Setelah panen dasar tambak dijemur. Setelah kering, Lumpur bisa dikeruk dan dibuang ke tempat khusus. Sistem ini cocok diterapkan saat musim kemarau. Setelah selesai pengambilan Lumpur, tambak dicuci, kemudian tebarkan Bakteri Fotosintetik secukupnya.
  • Sistem Basah (wet system): Setelah selesai panen, dasar tambak disemprot dengan air bertekanan agar Lumpur larut dalam air. Kemudian Lumpur disedot dan dibuang ke tempat penampungan Lumpur. Setelah selesai tebarkan bakteri fotosintetik secukupnya. Sistem ini sangat cocok diterapkan saat musim penghujan.
  • Sistem Daur Ulang (aduk lumpur) atau “Aerated Microbial Reused (AMR) system” : Setelah panen lumpur tidak dibuang melainkan didaur ulang dengan menggunakan bakteri pengurai (probiotik).
  • Caranya, setelah panen lumpur diaduk-aduk dan diaerasi serta dimasukkan bakteri pengurai seperti Bakteri Fotosintetik, Bacillus, atau jenis lainnya, yang bisa mendaur ulang bahan organik seperti : protein, karbohidrat, lemak menjadi senyawa anorganik (mineral) yang sangat dibutuhkan oleh plankton.
  • Pengadukan Lumpur dilakukan terus hingga proses dinggap selesai. Untuk keperluan pekerjaan ini bisa digunakan alat berupa rantai atau alat lain yang ditarik oleh beberapa orang dari sisi tambak satu ke sisi yang lain, sehingga lumpur benar-benar teraduk rata. Proses ini dianggap selesai bila kondisi tanah dasar tambak kembali seperti semula (warna maupun baunya sudah seperti tanah aslinya).

Penebaran bisa dilakukan langsung bila kondisi airnya memenuhi persyaratan (seperti pH air, DO,alkalinitas, plankton dan kandungan bakteri dalam airnya). Penebaran langsung hanya boleh dilakukan untuk tambak-tambak yang panennya normal (tidak terkena penyakit). Untuk tambak yang terkena kasus penyakit. Air harus dibuang lagi dan dilakukan sterilisasi baru kemudian dilakukan persiapan. Sistem ini sangat cocok untuk daerah-daerah yang terpencil dan sulit mendapatkan tenaga kerja.

BENUR SEHAT DAN BERKUALITAS (SPF)
Untuk mengurangi / mencegah resiko kegagalan dalam budidaya maka harus menggunakan benur SPF yaitu benur yang sehat dan berkualitas serta sudah dinyatakan bebas terhadap penyakit tertentu yang diketahui. Jadi benur yang digunakan sudah lolos dari berbagai uji yang meliputi :
  • Pengamatan Visual yang meliputi : tingkah laku (aktivitas), keseragaman, dan lain-lain.
  • Uji ketahanan (Stress test) dengan formaline maupun salinitas.
  • Uji mikroskopis yang meliputi kondisi otot abdomen, MGR, hepatopancreas, ectocommensal (parasite), necrosis, dan chromatophora.
  • Uji microbiologis yang meliputi ada tidaknya bakteri pathogen seperti vibrio (uji TCBS), MBV (MG stain), WSSV, TSV, IHHNV (dengan PCR).

PENGAMANAN LINGKUNGAN BIOLOGIS (BIOSECURITY)
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menerapkan Sistem Pengaman Biologis (Biosecurity) antara lain :
  • Air yang masuk harus melalui filter yang cukup halus untuk mencegah masuknya telor ikan dan udang liar serta crustacea lain.
  • Pembasmian terhadap organisme yang dicurigai sebagai carrier (contoh : berbagai jenis crustacea dinyatakan sebagai pembawa virus white spot).
  • Pemasangan barrier (penghalang) untuk berbagai jenis kepiting dan burung.
  • Menerapkan system sedikit / tanpa ganti air.
  • Menjaga kebersihan : peralatan tambak, pekerja tambak serta lingkungan tambak.
  • Menggunakan probiotik (bakteri pengurai) untuk menekan perkembangan bakteri pathogen, menjaga kestabilan dan perbaikan lingkungan dalam tambak.

PEMANTAUAN KUALITAS AIR DAN TINGKAH LAKU UDANG
Untuk mencegah / mengurangi masuknya bibit penyakit ke dalam tambak, maka harus diterapkan bioscurity sebagaimana yang telah diuraikan. Pergantian air harus ditekan seminim mungkin. Untuk menjaga kestabilan kondisi kualitas air harus menggunakan bakteri pengurai (probiotik) secara berkala dengan dosis yang cukup. Dosis ekstra (di luar jadwal) diberikan bila terjadi perubahan air secara tiba-tiba (kondisi kualitas air kurang baik).

Hindari pergantian air hingga udang berumur minimal 60 hari untuk mencegah kasus white spote. Akan tetapi ketinggian air harus tetap diusahakan minimal 1 meter. Oleh karena itu, harus disiapkan air dalam reservoir yang telah mengalami treatment secukupnya. Penambahan air hanya dilakukan untuk mempertahankan ketinggian air (akibat pengaruh penguapan dan bocoran).

Usahakan warna air sudah terbentuk ketika penebaran, dan tidak jernih hingga udang berumur 1 bulan. Hal ini sangat penting untuk mencegah serangan Vibrio harveyi dan munculnya serangan white spote. Untuk itu, penambahan pupuk yang sesuai sangat diperlukan hingga kondisi warna air benar-benar stabil. Hentikan pemupukan setelah udang berumur 70 hari (kecuali dengan pertimbangan-pertimbangan khusus).

Air harus dikondisikan ke arah heterotrof (mendominankan bakteri yang baik / probiotik dalam air) untuk menekan bakteri pathogen (mungkin juga virus bebas) dan untuk menjaga kualitas air dari pencemaran bahan organic (sisa pakan, kotoran udang dan plankton yang mati) serta bahan beracun lainnya (amoniak, H2S, dll.).

Penebaran bakteri pengurai (probiotik) seperti Bacillus spp. , Bakteri Fotosintetik, dll harus dilakukan secara rutin. Disamping itu, pemberian fermentasi harus diberikan setiap hari untuk mempercepat terbentuknya kondisi yang heterotrof. Pada kondisi heterotrof, bakteri menguraikan bahan organik dan melepas CO2, sehingga pH air dan alkalinitas akan cenderung turun. Untuk itu, pemantauan rutin terhadap kualitas air tersebut harus dilakukan. Untuk mempertahankan / menaikkan pH dapat dibantu dengan pengapuran (sebaiknya malam hari), dan untuk meningkatkan alkalinitas bisa menggunakan dolomite atau soda kue. Hati-hati, pada kondisi pH rendah (kurang dari 7,5), alkalinitas rendah (kurang dari 50 mg/l CaCO3) bisa menyebabkan udang keropos, lembek, karena kekurangan kalsium.

Setelah udang berumur 60 – 70 hari, kondisi udang sudah cukup kuat terhadap ancaman white spote, pergantian air bisa dilakukan. Hindari goncangan kualitas air agar udang tidak stress. Masukkan air sedikit demi sedikit, semakin hari semakin ditambah volume pergantian airnya. Saat pergantian air yang baik adalah pada saat pH air terendah (sebelum matahari terbit) dan saat pH tertinggi (saat matahari terbenam). Saat pH air terendah, kandungan H2S tertinggi dan oksigen terlarut terendah, sedangkan saat pH tertinggi, kandungan amoniak (NH3) tertinggi.

Untuk menunjang agar system heterotrof bekerja dengan baik, maka jumlah aerator yang beroperasi harus cukup. Untuk luasan tambak 1 hektar dibutuhkan minimal 18 paddle whell (1 HP). Bila kondisi heterotrof benar-benar tercapai (sedikit/tanpa fitoplankton) dengan air berwarna coklat muda keruh, hijau keruh kincir harus beroperasi 24 jam per hari.

Udang sebagai hewan yang bersifat bentic/semi bentic, hidup di dasar perairan (kolom air dan dasar tambak). Oleh karena itu, apabila ada udang yang naik ke permukaan/pinggir pematang harus dicermati. Perlu diperhatikan pula kondisi udangnya. Pengamatan yang jeli terhadap kondisi udang di lapangan sangat diperlukan untuk menunjang kesuksesan dalam budidaya udang. Misalnya warna yang sudah tidak cerah (kusam), kemerahan, kehitaman, kebiru-biruan,dll. Kelengkapan anggota tubuh seperti kaki jalan, kaki renang, ekor, antenna (sungut). Mata (bercahaya / tidak saat disinari). Bila kondisi lingkungan bagus, pakan cukup maka udang akan tenang di dasar. Bila ditemukan udang berenang (konvoi), minggir ke tepi pematang kondisi usus kosong / tidak maka harus segera diperiksa dan diambil tindakan.

Anco yang digunakan sebagai alat kontrol untuk pengamatan pakan, dapat juga membantu kita untuk memeriksa kondisi udang. Udang yang ada masalah biasanya naik anco belakangan. Jadi untuk memeriksa kondisi udang dapat dilakukan pada udang yang naik anco belakangan tersebut. Begitu juga, pada malam hari, biasanya udang yang tidak sehat akan cenderung naik ke anco atau ke tepi kolam. Oleh karena itu pemantauan pada malam hari sangat diperlukan. Amati juga kotoran udang. Kotoran yang padat dan panjang menunjukkan udang sehat. Sedangkan kotoran yang hacur / terputus-putus menunjukkan kondisi udang kurang sehat. Kotoran udang yang makan pellet warna kotorannya mirip dengan warna pellet. Bila kotoran berwarna merah ada kemungkinan makan cacing atau makan udang lainnya (kanibal). Dan bila kotoran udang berwarna putih maka harus diwaspadai. Bila kotoran udang berwarna putih dan mengapung dalam air menunjukkan bahwa udang kita terserang penyakit yang kemungkinan disebabkan oleh salah satu atau komplikasi dari (protozoa (gregarine), vibrio, virus, blue green algae).
Penerapan beberapa aspek berikut merupakan rangkuman dari kiat sukses petambak yang terdiri dari :
  • Menerapkan system keseimbangan lingkungan
  • Gunakan benur yang sehat berkualitas dan bebas penyakit tertentu (SPF).
  • Terapkan sistem pengaman biologis (bioscurity) di tambak
  • Menggunakan tandon air dengan ukuran yang sesuai
  • Menerapkan sedikit / tanpa ganti air untuk mencegah / mengurangi pathogen yang masuk
  • Menggunakan probiotik untuk menekan bakteri pathogen dan menjaga / memperbaiki kondisi lingkungan
  • Menggunakan bahan pembantu atau feed additive (immunostimulant, vitamin) bila perlu serta menekan penggunaan antibiotik
  • Teknik pemantauan yang rutin , kombinasi pengamatan lab dan lapangan
  • Cepat mengambil tindakan secara tepat bila terjadi sesuatu
  • Selalu mengadakan inovasi dan mencari informasi teknologi budidaya alternatif terkini

5 komentar:

  1. CV. ARBETA INDO RAYA Contact Address.Jl. Kaligede 20 Betoyoguci Village, Manyar District, Gresik, East Java, Indonesia 61151 mail to: info@arbeta.co.id - http://www.arbeta.co.id

    RMP RICE MILLING PLANT, FISH HATCHERY, TRADING AND BUYING AGENTPada tahun pertama, perusahaan berfokus pada jasa agency, buying agent dan perdagangan eceran. Hal ini ditandai dengan import pertama berupa rubber roller dari Vietnam pada tahun 2007 dan export pertama berupa wood charcoal untuk pabrik pengolahan baja di Korea Selatan.

    CV. Arbeta Indo Raya membagi fokus usaha menjadi 3 bagian utama:

    - MANUFAKTUR : Mesin pertanian dan pengilingan padi RMP Rice Milling Plant, antara lain PADDY CLEANER (Mesin Pembersih / Ayakan Gabah), DE-STONER ( Mesin Pemisah Batu ), PADDY HUSKER ( Mesin Pecah Kulit ), PADDY SEPARATOR ( Mesin Pemisah Gabah ), THICKNESS GRADER, ABRASIVE WHITENING MACHINES ( Mesin Poles Batu ), FRICTION WHITENING MACHINES (Mesin Poles Besi), KEBI POLISHER ( Mesin Poles Uap / Kebi ), ROTARY - SHIFTING MACHINES ( Mesin Sortir Beras ), CILINDER - LENGHT GRADE MACHINES ( Mesin Sortir Beras ), COLOR SORTING MACHINES ( Mesin Sortir Beras ), AUTOMATIC PACKING MACHINES ( Mesin Packing Otomatis ), GRAIN / PADDY DRYER ( Mesin Pengering Biji / Padi), HUSK BURNER / SCUM BURNER ( Mesin Pembakar Sekam / Tungku Sekam ) dengan merek SIMPYONG.

    - FISH HATCHERY : Produksi bibit ikan Bandeng (Nener), Udang Windu (Benur), Benur Vannamei / Vanami, Bibit Kerapu.

    - AGENCY :Jasa Konsultan, Pengurusan Izin, Quality Control, Buying Agent.

    Untuk informasi dan kerjasamaHubungi HOTLINE kami di 081 837 6111 atau kirimkan email ke: info@arbeta.co.id - http://www.arbeta.co.id

    BalasHapus
  2. Yth mas Budi,

    mohon informasi persyaratan lokasi tambak udang, dari aspek fisika, kimia, biologi, baik tanah maupun air.

    apakah Indonesia (DKP atau lembaga yang berwenang) sudah memiliki / mengeluarkan acuan standard baku untuk persyaratan air dan tanah tambak?

    terima kasih banyak mas.

    Salam
    Ardi (ardi.wijaya@gmail.com)

    NB. apakah ada email yang bisa dihubungi?

    BalasHapus
  3. Halo mas,

    Mohon informasinya nih mas :
    1. Konsentrasi CO2 yang baik untuk udang berapa ya?
    2. Apabila ditemukan cacing nematoda di sistem budidaya kita, apa dampaknya ke udang?

    Terima kasih mas sebelumnya.

    Salam,
    Nanang (nanang_laut95@yahoo.com)

    BalasHapus
  4. Hoi iki kang Hamid sing nang DCD - WM ????

    BalasHapus